Selasa, 05 April 2016

Cerpen

Membangun Kasih Sayang

Mengawalkan hari dengan pagi, mengawali magfirah-Nya, hidayah-Nya dan mengawali pembagian rezeki-Nya. Melalui pagi, Allah menyeru hamba-Nya untuk mengejar semuanya penuh semangat dengan mata dan tangan terbuka menyambut karunia-Nya. Pagi ini pun masih kuawali dengan mengharapkan cucuran rahmat Allah. Tapi apa itu perkenalan? Kadang aku bertanya "mengapa Allah telah mempertemukan aku dengan Yusuf? Bila nyatanya Yusuf itu nyebelin" Difikir-fikir Yusuf itu pinter,ganteng. Ihh tapi dia nyebelin. Makin lama, makin hening. "Kenapa Otakku melayang mikirin pangeran nyebelin itu?" 

"Hasna.Hasna.Hasna" suara Yusuf begitu keras mengusikku dari lamunan. 
"Ihh apasih.ngeganggu aja" dengan nada kaget aku ungkapkan,ternyata Yusuf manggil aku semenjak aku ada di pengajian.
 "Dari tadi dipanggil. Emang lagi mikirin siapa?hayo, ngaku aja!" Mulutku rapat sulit untuk bergerak. Cuma hatiku yang menyahut "Mikirin Yusuf" Tanpa ada jawaban dari aku, kejailan Yusuf muncul lagi.
"Udah jangan banyak ngelamun. Ini Al-Qurannya jangan didiemin. Mending Al-Qurannya buat aku aja ya :). Makasih Al-Qurannya" 
" ih jangan. Itu Al-Quran aku. Kalo diambil aku jadi ga punya. Nanti kalo beli lagi, sekarang lagi ga punya duit." Ternyata suara aku diabaikan sama Yusuf yang langsung pergi ninggalin pengajian. 

"Umiii. Al-Quran Hasna diambil Yusuf. Umi, itukan Al-Quran kesayangan Hasna" 
" Hasna. Ikhlasin aja ya. Lagi pula kalo yusuf jail kan tanda peduli juga.hehe. kamu tau kabar Yusuf sekarang? Hari ini, hari terakhir Yusuf dateng dipengajian Masjid Al-Hidayah. Yusuf mau menuntut ilmu di Pondok Pesantren. Ini ada titipan surat dari Yusuf, dibaca ya" senyuman umi berusaha untuk mendamaikan hati aku. 

Assalamualaikum..
Hasna aku pamit ya.aku harus pergi mau menuntut ilmu. Meskipun sekarang aku terakhir ketemu sama Hasna, tapi terakhir bukan untuk berakhir kan? Hasna harus jaga diri. Sholatnya jangan ditinggalin. Jangan lupa berdoa juga.

Wassalamualaikum
 Pangeran Nyebelin Yusuf 
Yusuf selalu ngingetin aku kebaikan, tapi demi nuntut ilmu. Kucoba semuanya dengan ikhlas termasuk Al-Quran aku. Semoga semua ini jalan yang terbaik. Sekarang hari-hari aku sibukan dengan banyak membaca, dan mencoba mulai menulis. Waktu berlalu begitu saja tanpa salam menjauh dari masa lalu. Langkanya begitu halus, hanya meninggalkan setitik jejak yang begitu kecil hingga terkadang lupa untuk dikenang. Putaran rotasi bumi berulang kali menenggelamkan sang mentari sebagai penghapus bagi goresan kenangan yang pudar menjadi secercah bayangan samar. 
 Enam tahun lamanya. Tahun ini Yusuf lulus dari pondoknya. Aku mau coba kirim surat deh "umi. Aku mau pamit dulu ya. mau kekantor pos, mau ngirim surat ke Yusuf. Dadah umi Assalamualaikum."
 "Waalaikumusalam. Hasna hati-hati ya.

" Senengnya hati ketika mencoba untuk ngirim surat ke Yusuf. Macet yang terjadi, lelah yang dirasa. Semuanya hilang saat sampai di kantor pos. Ketika memasuki kantor pos, seketika bunyi ponsel memghentikan langkahku

 "Assalamualaikum. Hasna. Hasna.Hasna. Ini umi. Yusuf na"

 "Waalaikumusalam. Iya umi, ko umi nangis? Yusuf kenapa mi?" kebinggungan aku membuat nada menjadi gugup juga.
 "Tadi Yusuf kerumah. Pas ternyata kamu ke kantor pos, yusuf mau jemput kamu. Tapi ternyata diperjalanan Yusuf ditabrak truk. Kondisi Yusuf dalam keadaan kritis. Dia manggil-manggil nama kamu. Kamu buruan ke rumah sakit." Tanpa aku jawab. Aku langsung matikan ponsel itu. Kini wajahku sudah berubah menjadi mendung penuh kekhawatiran akan keadaan Yusuf. Surat yang ada ditangan pun jatuh. Aku beranjak pergi kerumah sakit. Sesampai dirumah sakit, aku langsung memasuki ruang ICU. 
"Assalamualaikum". Salam yang hanya bisa aku tebarkan, terlihatlah begitu banyak alat yang menutupi ditubuhnya. Tapi aku berusaha untuk menutupi kesedihan ini. Tiba datanglah umi. Yang dari tadi sibuk mendoakan kondisi Yusuf, segera memberikan surat "Hasna. Ini umi nemuin surat di dompetnya Yusuf. Kamu baca ya" 

Assalamualaikum. 
Hasna. Apa kabarnya? Jarak memang menyiksa. Tapi jarak juga yang mengajarkan kita "apa itu rindu". Allah telah mempertemukan aku untuk mengenalnya yaitu sosok yang menenangkan hati. Dia adalah kamu. Wanita yang berusaha istiqomah dalam kebaikan. Ya. Aku merasakan kesejukan hati bersamanya. Semoga disaat aku pulang nanti, aku akan menggantikan Al-Quran yang telah aku ambil dengan hafalan Al-Quran untuk menjadi teman hidup yang akan ada untuk selama lamanya. 
Wassalamualaikum 
 Alfakir ilallah (Yusuf) 
Tidak berapa lama,seolah suasana makin kacau. Tim dokter dan suster begitu sibuk dan kerepotan. Mereka sedang mempersiapkan alat pacu jantung. Innalillahi wa innailaihi raji'un. Tenyata nyawa Yusuf sudah ga mampu ditolong. Yusuf semoga kamu bisa Washilul arham karena udah berjuang dalam menjaga perasaan ini. Aku hanya bisa mendoakan kamu dapat meraih tempat yang damai disurga. Amin, ya Allah, Ya Mujiba Sa'ilin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar